Nawaqidul Islam 1: BERBUAT syirik

Bismillah.  Innal hamdalillah washolatu wassalamu ala rosulillah, wa ala alihi wa’ ashobihi wamanwalah ‘amma ba’du.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami untuk datang ke majlis ilmu.

Sholawat serta salam semoga terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarga, sahabat dan kaum mukminin hingga akhir zaman.

PEMBATAL ISLAM PERTAMA: BERBUAT SYIRIK DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH

Bentuk murtad yang paling buruk adalah murtad karena beribadah kepada selain Allah, misalnya seseorang yang berdo’a kepada selain Allah, menyembelih bukan untuk Allah, sujud kepada selain Allah atau beristigatsah kepada selain Allah. Ini adalah seburuk-buruknya kemurtadan.

Kita mengenal dua macam kekufuran, yaitu:

  • Kufur karena tidak masuk islam.
  • Kufur karena menyembah selain Allah.

Ancaman Allah atas pelaku kesyirikan.

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ 

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

(QA Al-Maidah: 72)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

(QS. An-Nisa: 48)

Yang dimaksud Allah tidak mengampuni dosa syirik adalah dosa syirik yang dibawa mati, yaitu pelakunya tidak atau belum bertaubat dari kesyirikan ketika dia mati.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

(An-Nisa: 116)

Dari dalil di atas, dan banyak lagi dalil mengenai bahaya syirik maka hendaknya setiap muslim berhati-hati atas apapun yang bisa menjerumuskan mereka kepada kesyirikan, karena pelakunya terancam akan kekal di neraka. Di antara perbuatan syirik adalah berdo’a, menyembelih, bernadzar, beristigatsah, memohon pertolongan dalam hal-hal yang hanya Allah dapat melakukannya, semua perbuatan ini kalau ditujukan kepada selain Allah, maka pelakunya bisa jatuh ke dalam kesyirikan.

Kesyirikan terbagi menjadi dua macam, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Pelaku syirik besar yang meninggal dalam keadaan belum bertaubat maka akan kekal di neraka. Sedangkan pelaku syirik kecil yang belum bertaubat akan dihukum di neraka namun tidak akan kekal di dalamnya. Namun jangan salah mengartikan arti syirik kecil, karena syirik kecil adalah dosa besar.

Bahaya beribadah kepada penghuni kubur.

Sebagian manusia ada yang mengaku sebagai Muslimin, dan membangun bangunan mewah dan tinggi di kuburan orang-orang yang mereka anggap wali. Mereka berdo’a agar penghuni kubur tersebut menyampaikan do’a mereka kepada Allah. Ini adalah kekufuran. Mengapa mereka tidak langsung meminta kepada Allah, bukankah Allah Maha Mendengar? Lalu mereka mengitari kuburan tersebut (thawaf) dengan alasan perbuatan tersebut bisa mendekati mereka kepada Allah, ini jelas kesyirikan. Mengapa mereka tidak langsung memohon kepada Allah, Pemilik Langit dan Bumi?

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

(QS Al-Baqarah: 186).

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

(QS Ghafir: 60)

Banyak lagi dalil yang menunjukkan bahwa Allah ingin hama-Nya langsung berdo’a kepadanya. Ketika seseorang berkata, mereka melakukan ini dan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah mengabulkan do’a-do’a mereka, maka mereka telah berkata persis seperti apa yang dikatakan oleh kaum musyrik terdahulu.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

(QS Az-Zhumar: 3)

Lalu mereka pelaku kesyirikan menghiasi perbuatan zolim mereka dengan nama tawassul atau meminta syafaat dan yang lainnya. Semua nama indah yang mereka gunakan tidak akan mengubah hakikat atas apa yang mereka lakukan adalah ksyirikan besar, dan apabila mereka tetap melakukannya dan belum bertaubat ketika nyawa mereka dicabut maka mereka akan kekal di neraka jahannam.

Kesyirikan adalah ancaman terbesar bagi kaum muslimin.

Para pelaku kesyirikan telah membuat manusia memandang indah atas perbuatan hina yang mereka lakukan. Mereka mencampur adukkan amalan yang haq dengan kesyirikan sehingga membuat muslim terjerumus ke dalamnya. Para pelaku kesyirikan juga melakukan sholat, puasa, zakat dan lainnya, namun mereka juga datang ke kubur-kubur wali, atau ke dukun-dukun dan yang semisalnya untuk melakukan ibadah di luar syariat islam. Ini akan mengeluarkan mereka dari islam, meskipun lidah mereka mengucapkan Laa Ilaaha ilallahu. Oleh karena itu sangat penting bagi kaum muslimin mempelajari apa-apa saja yang dapat membuat mereka jatuh ke dalam kesyirikan.

Kebodohan bukan alasan untuk melakukan kesyirikan.

Ada yang mengatakan bahwa kita harus memaklumi pelaku kesyirikan karena mereka tidak tahu, atau karena mereka bodoh. Sampai kapan mereka mau tetap dalam kebodohan, padahal mereka telah membaca Al-Qur’an dan mendegar hadits-hadits shahih tentang bahaya kesyirikan? Sungguh telah tegak hujjah untuk mereka.

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

(QA Al-An’am: 19).

Sungguh tidak ada alasan bagi pelaku kesyirikan. Untuk siapapun yang telah datang kepada mereka penjelasan dari Al-Qur’an maka telah tegak hujjah dan tidak ada udzur bagi mereka.

Menyembelih kepada selain Allah adalah kesyirikan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi membawakan dalam kitabnya salah satu contoh kesyirikan yang paling banyak beredar di masyarakat adalah menyembelih hewa kepada selain Allah, seperti orang yang menyembelih untuk Jin atau penghuni Kubur, wa ‘iyaadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut).

Banyak dari kaum muslimin yang melakukan ini dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit, menolak bala atau ingin terhindar dari bahaya, atau ingin mendapatkan ilmu tertentu dan semisalnya. Setan berkata kepada manusia, “sembelihlah domba”, atau “sembelihlah ayam hitam” seolah ini adalah perkara yang biasa padahal ini adalah syirik akbar, atau syirik besar yang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka kekal selamanya. Meskipun seseorang hanya menyemblih seekor lalat untuk selain Allah maka ini adalah syirik besar. Karena yang dinilai bukan dari seberapa besar sesembahan tersebut tapi niat ketika melakukannya.

Keuntungan orang yang tidak melakukan kesyirikan.

Kesyirikan diancam Allah dengan hukuman yang terberat, dan siapapun yang menjauhinya mendapatkan kebaikan-kebaikan yang besar. Salah satunya, mereka yang tidak melakukan kesyirikan dapat memberikan syafaat kepada muslim lain di hari kiamat kelak.

Dari Kuraib, ia berkata,

أَنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ فَقَالَ يَا كُرَيْبُ انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ النَّاسِ. قَالَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدِ اجْتَمَعُوا لَهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ تَقُولُ هُمْ أَرْبَعُونَ قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَخْرِجُوهُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ »

“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyolati jenazahnya.” Kuraib berkata, “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab, “Ada 40 orang”. Kuraib berkata, “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.”

(HR. Muslim no. 948)

Selain itu, Allah menjanjikan ampunan yang luas bagi yang Dia kehendaki untuk mereka yang tidak melakukan kesyirikan. Dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.”

(HR. Tirmidzi no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Abu Thohir)

Dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ, , أ تدرى ما حقهم عليه ؟) قال : الله و رسوله أعلم, قال : (أن لا يعذبهم) و فى لفظ لمسلم : ( و حق العباد على الله عز و خل أن لا يعذب من لا يشرك به شيأ )

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (dan) tahukah engkau hak hamba terhadap Allah ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “Dia tidak akan mengadzab mereka”,

Bukhari, Fathul bari 13/7373 cet Darul fikr hlm 347

Dan dalam lafadz Imam Muslim : “bahwasanya Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya

Al Minhaj kitabul iman I/177 cet Darul ma’rifat Beirut

“Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung, karena dia merupakan pondasi pokok yang seluruh perkara agama ini dibangun diatasnya, oleh sebab itu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memulai dakwah Beliau dengan tauhid dan memerintahkan para dai yang beliau utus untuk memulai dakwah mereka dengannya.”

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah