Nawaqidul Islam: PEMBUKAAN

Kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimmi.

Tulisan ini adalah catatan Dauroh bersama Ustadz Abdullah Roy yang membahas kitab Nawaqidul Islam karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman at-Tamimi, disyarah oleh Syaikh Soleh al-Fauzan rahimahullahu ta’ala.

Bismillah.  Innal hamdalillah washolatu wassalamu ala rosulillah, wa ala alihi wa’ ashobihi wamanwalah ‘amma ba’du.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami untuk datang ke majlis ilmu.

Sholawat serta salam semoga terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarga, sahabat dan kaum mukminin hingga akhir zaman.

Kitab yang akan dikaji ini merupakan terjemahan penjelasan (syarah) terhadap salah satu karya tulis ulama besar kaum muslimin yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimmi rahimahullah yang berjudul “Nawaqidu Al Islam” yang disyarah oleh Syaikh Sholih Fauzan al Fauzan hafidhahullahu ta’ala.

Ulama menghitung ada 400 lebih pembatal keislaman, namun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimmi menuliskan 10 Pembatal Keislaman yang menurut beliau paling utama. Mengapa disifati demikian karena:

  • Paling banyak tersebar di antara kaum Muslimin.
  • Paling Berbahaya.

An Nawaqidh adalah jamak dari “Naqid”, yang dimaksud (Nawaqidh) adalah pembatal-pembatal, seperti nawaqidhul wudhu yaitu (artinya) pembatal-pembatal wudhu. (Demikian juga) Pembatal-pembatal Islam  dinamakan dengan “nawaqid” yang juga dinamakan sebagai sebab-sebab murtad atau jenis-jenis murtad.

Adapun Al-Islam yang dimaksud di sini adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Sallalhu Alaihi Wasallam. Adapun Islam itu terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Islam secara umum, yaitu Islam yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul.
  • Islam secara khusus, yaitu Islam yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam. Dimana untuk memasukinya bisa karena dua sebab:
    • Mengucapkan dua kalimat syahadat.
    • Bawaan dari lahir karena kedua orang tuanya muslim.
  • Islam dengan makna lebih khusus dengan tiga tingkatan:
    • Islam, Muslim.
    • Iman, Mukmin.
    • Ihsan, Muhsin.

Di antara pembatal keislaman ini ada yang berbentuk:

  • Keyakinan, misalnya dia percaya ada pencipta lain selain Allah.
  • Ucapan, misalnya dia berdoa kepada selain Allah.
  • Tindakan atau perbuatan, misalnya dia sujud atau ruku kepada selain Allah.

Keraguan juga bisa mengeluarkan seseorang dari Islam, sebagaimana keraguan seseorang terhadap syariat Allah. Misalnya seorang muslim yang ragu akan kewajiban Sholat, apakah wajib atau tidak wajib? Maka keraguan seperti ini mengeluarkan seseorang dari Islam. Keraguan adalah bimbang terhadap dua perkara, apakah wajib atau tidak wajib?

Dan (oleh karena itulah) mengetahui pembatal-pembatal Islam tersebut adalah perkara yang sangat penting bagi setiap muslim dalam rangka menjauhinya dan berhati-hati terhadapnya, karena apabila seorang muslim tidak mengetahuinya dikhawatirkan ia akan terjatuh kepada sesuatu (salah satu) dari nya dan ini termasuk perkara yang sangat berbahaya, karena hal tersebut adalah pembatal-pembatal Islam. Oleh karena itu mengetahui sebab-sebab kemurtadan dari Islam adalah perkara yang sangat penting sekali.

Murtad dari Islam maknanya adalah mencabut kembali keislamannya, diambil dari fi’il madhinya “irtadda” (dia telah murtad) yaitu ketika ia mencabut kembali keislamannya.

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

(QS Al Baqarah 217).

Ayat di atas merupakan teguran keras terhadap kaum mukminin yaitu mereka yang murtad dari Islam kemudian mati dalam keadaan belum bertaubat maka amalan mereka terhapus dan mereka kekal di Neraka.

Adapun dalil dari al Hadits mengenai bahaya syirik dan murtad adalah sebagai berikut

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab: (1) orang yang telah menikah yang berzina, (2) jiwa dengan jiwa (membunuh), (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), lagi memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.”

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)  (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6878 dan Muslim, no. 1676]

”Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah dia.”

(HR. Bukhari 3017, Nasai 4059, dan yang lainnya)

Bahkan jika yang murtad ada dalam jumlah banyak maka mereka diperangi sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu anhu selepas wafatnya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan banyak yang murtad dari Islam. Beliau memerangi orang-orang murtad tersebut dalam rangka mengamalkan firman-Nya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

(QS Al Maidah 54)

Ulama mengatakan bahwa kalimat “مَن يَرْتَدَّ” dalam surat ini adalah kalimat untuk masa yang akan datang. Allah berfirman untuk waktu yang akan datang, yaitu Allah mendatangkan Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan para sahabat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memerangi orang-orang yang murtad.

Orang-orang yang keluar dari Islam (murtad) tidak sama hukumnya dengan orang-orang kafir bawaan atau kafir dari lahir. Orang yang murtad, sebelumnya telah masuk Islam tanpa paksaan. Dia telah mengakui kebenaran Islam, maka ketika dia murtad maka tindakan mempermainkan agama dan membunuhnya sebagai bentuk penjagaan terhadap akidah.

Sudah sepantasnya bagi Mukmin dan Mukminah untuk terusik jiwanya ketika melihat saudara-saudaranya terjatuh ke dalam kekufuran, dimana bisa jadi dia menganggapnya sebuah hal yang kecil namun besar di sisi Allah. Hal-hal tersebut misalnya ketika seseorang pergi ke Dukun, orang pintar, bermain sihir atau dia menghina perintah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik dia serius atau bersenda gurau saja.

Dulu para Sahabat bertanya mengenai keburukan kepada Nabi Salallahu Alaihi Wasallam bukan karena ingin melakukan keburukan tersebut, namun karena ingin agar mereka terhindar dari hal tersebut.

Di masa ini, ketika kebodohan semakin tersebar dan Islam makin terasing munculah orang-orang bodoh yang disebut sebagai orang berilmu dan mereka mengatakan, “jangan lah kalian mengatakan seorang muslim kafir, cukup dengan nama Islam, cukup dengan dia mengatakan saya muslim. Sekalipun dia telah melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas kufur seperti menyembelih untuk selain Allah atau mencela Allah dan Rasul-Nya, seandainya dia melakukan tersebut dan masih mengatakan dirinya Islam maka jangan engkau mengkafirkannya”.

Berdasarkan ucapan di atas, masuk di dalamnya sekte sesat Bathiniyah dan Qoromithah. Demikian juga dengan sekte sesat Kuburiyyun (para pemuja kubur) dan Syi’ah ar Rafidoh, al Qodaniyah dan kelompok sesat lainnya.

Mereka mengatakan, jangan kalian mengkafirkan kaum muslimin walaupun jelas mereka melakukan tindakan kekufuran. Jangan kalian memecah belah kaum muslimin.

Kalimat, “jangan kalian memecah belah kaum muslimin” adalah kalimat yang haq namun yang mereka inginkan adalah kebathilan. Mengapa? Karena seseorang yang murtad bukanlah kaum muslimin. Saat Abu Bakr Radhiyallahu anhu memerangi orang-orang yang murtad, tidak ada para Sahabat yang mengatakan, “jangan memecah belah kaum muslimin”.

Hal di atas lebih parah daripada menghukumi seorang kafir dengan status muslim. Mengapa, karena salah satu penyebab seseorang murtad adalah tidak mengkafirkan orang kafir atau kalian ragu atas kekafirannya. Pernyataan ini bisa membuat dia ikut menjadi kafir bersamanya.

Mereka berkata, “jangan mengkafirkan seseorang yang jelas-jelas telah melakukan kekafiran karena mereka masih mengucapkan “laa ilaaha illa allah”. Maka kita jawab, mereka lebih bahaya dari orang-orang kafir sebenarnya. Mengapa? Karena mereka melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin. Mereka mendakwahkan kekafiran sebagai Islam. Mereka akan menyeret orang-orang Islam lainnya dalam kekafiran.

TAKFIR

  • Seseorang tidak boleh mengatakan ucapan atau perbuatan adalah pembatal keislaman kecuali dengan dalil.
  • Tidak semua yang melakukan pembatal keislaman langsung dihukumi murtad, karena untuk mereka bisa dikatakan keluar dari Islam harus memenuhi seluruh syarat: yan
    • Berakal.
    • Baligh.
    • Tidak dalam keadaan dipaksa.
    • Tidak mentakwil.

Adapun para ulama yang berhak mengeluarkan hukum takfir adalah ulama yang telah sampai tingkatan dapat mengeluarkan ijtihad.

Adapun dalam masalah takfir ada tiga golongan:

  • Berlebih, yaitu orang yang mudah mengkafirkan seseorang yang tidak boleh dikafirkan, misalnya karena orang tersebut menolak ber baiat terhadap pemimpin-pemimpin mereka, atau karena orang tersebut melakukan dosa-dosa besar.
  • Bermudah-mudah, yaitu mengatakan orang yang jelas melakukan pembatal Islam namun dikatakan tidak mengapa.
  • Di pertengahan dan inilah sikap ahlusunnah, yaitu kita mengkafirkan orang yang telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

BERSAMBUNG…